Belajar dari Topeng Monyet

Selamat datang di bulan September! Marilah kita rayakan bulan ini penuh dengan keceriaan dan semangat baru😀

Pagi ini aku akan posting foto-foto topeng monyet yang setiap setahun sekali aku tonton, karena nontonnya pas pulang kampung – bukan di rumah sendiri😦 Soalnya mungkin kalau di sini sudah mulai jarang ada topeng monyet, tapi ternyata di Madiun Alhamdulillah masih ada sampai sekarang🙂 Ngomong-ngomong, masih adakah topeng monyet di daerah kalian? 

Oke, jadi langsung saja. Silahkan dilihat foto-fotonya😉

Gambar

Sarimin pergi ke pasar. Cek kecrek kecrek 😆

Gambar

Sarimin membawa gerobak. Wow, monyetnya ganteng hehehe 😀

Gambar

Sarimin pergi naik motor. Brrm..brrrrmm… 😮

Gambar

Gambar

Sarimin guling-guling. Siut..siut…siut.. 😛

Gambar

Sarimin memakai topeng. Cek kecrek kecrek 😯

Memang seru kalau menonton topeng monyet seperti itu *jadi rindu kampung lagi🙄 tapi terkadang aku juga memikirkan nasib sang monyet. Kalau zaman dulu, topeng monyet masih laku sekali dimata orang banyak. Bahkan pada sirkus atau teater mininya, sang monyet juga memakai pakaian wayang :) Kalau sekarang, tampaknya topeng monyet sudah mulai terlihat jarang – khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Padahal topeng monyet itu sendiri mulai marak di Jakarta sekitar tahun 1980an😦

Yah, mungkin sebagian warga saat ini menentang keras pertunjukan topeng monyet karena dianggap sebagai penyiksaan binatang. Memang betul sih, kasihan monyetnya karena disiksa, dipaksa untuk bekerja, diberi makan juga sembarangan, dan sebagainya😥 Bahkan untuk menyewa monyetnya juga harus memakan biaya yang tidak sedikit.

Padahal sekitar tahun 2005 – saat aku balik lagi ke Bogor setelah 4 tahun berada di Surabaya – aku masih bisa menyaksikan pertunjukan topeng monyet dengan riang gembira bersama keluarga, tanpa memikirkan nasib sang monyet maupun majikannya. Well, mungkin aku sebagai remaja saat ini harus mulai belajar menyatakan pendapat sendiri seperti ini😐

Mau bagaimana lagi? Pengangguran sudah merajalela sekali di Indonesia ini, sehingga ada saja orang yang mengambil jalan seperti itu *yaitu melatih topeng monyet*, walaupun mereka tahu bahwa mereka telah dianggap menyiksa binatang. Lapangan pekerjaan semakin sedikit, KKN semakin “merakyat”, dan masih banyak lagi hal-hal yang harusnya kita perhatikan di dunia kerja kelak.

Mudah-mudahan sebagai generasi muda, kita bisa memperbaiki hal-hal tersebut ke arah yang benar. Mudah-mudahan juga Indonesia dapat menjadi negara yang makmur, dengan memperbanyak lapangan kerja, mendidik orang-orang yang tak mampu agar kelak bisa menjadi sukses, dan masih banyak hal-hal yang bisa diubah menuju ke arah yang positif. Seperti quote berikut :

Jangan jadikan kegagalan sebagai titik akhir dari perjuangan kita, tetapi belajarlah dari masa lalu, belajarlah dari kesalahan – jadikan kegagalan itu JUSTRU sebagai titik balik kita agar dapat menjadi lebih baik lagi ke depannya🙂

Sekian postingannya, mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah, maklum masih awal-awal – baru 1 bulan buat blognya hehehe😎

Semangat pagi, semua😀

Sumber : http://jakartaanimalaid.com/blog/2012/02/06/simpang-amsterdam-masih-terhiburkah-anda-menonton-topeng-monyet/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s